Senin, 09 Juni 2014

semantik di dalam buku smp


Nama : Siti Aminah
Npm    : 116210787
Kelas   : 6 D

Buku paket kelas VII SMP
Identitas buku pada kelas VII SMP yang memakai kurikulum 2013:
Buku               : Bahasa Indonesia
Penulis             : Budi Waluyo
Dicetak oleh    : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Tahun terbit     : 2013
Halaman isi     : 248
                                 
            Dalam buku ini berisi beberapa semantic yang telah dipelajari siswa SMP seperti:
Pada halaman 7
Singkatan dan Akronim
1.      Wisata Bahari Lamongan (WBL) merupakan tempat wisata yang terletak dipesisir Pantai Jawa.
2.      Tempat wisata tersebut di buka sekitar pukul 08:30 sampai pukul 17:30 WIB.
3.      Para pedagang yang tergabung dalam Pagububan Pedagang Pasar Gagan (P3G) melakukan menyedotan air yang tergenang ditengah pasar.
4.      Peristiwa terendamnya Pasar Gagan tersebut merupakan kali kedua yang terjadi di pasar milik pemerintah desa (pemdes) Donohudan.
Kata yang tercetak tebal pada kalimat 1 – 3 merupakan contoh singkatan, dimana singkatan adalah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Kata yang tercetak tebal pada kalimat 4 adalah contoh akronim, yang disebut akronim adalah singkata dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai kata (dibaca sebagai kata).
Pada halaman 45
Sinonim dan Antonim
Setiap kata memiliki makna. Dalam penggunaannya, ada beberapa kata yang memiliki makna sama yang disebut sinonim. Namun, ada juga beberapa kata yang memiliki makna saling berlawanan, yang disebut antonim. Selain sinonim dan antonim, ada juga istilah polisemi. Polisemi adalah sebuah kata yang memiliki beberapa makna. Antarmakna kata tersebut masih memiliki inti makna yang sama.
Perhatikan beberapa kata pada kalimat-kalimat di bawah ini !
1.      Lantai kamar ini terasa halus karena sudah dikeramik. Saat belum dikeramik, lantai terasa kasar.
Kata halus berlawanan makna dengan kata kasar. Jadi, hubungan makna antara kata halus dan kasar adalah hubungan antonim. Contoh lainnya adalah bersih >< kotor, tinggi >< rendah/pendek, sejuk >< panas.
2.      Di pojok ruang itu terdapat sebuah lemari ukir dari kayu jati.
Di sudut ruang itu terdapat sebuah lemari ukir dari kayu jati.
Kata pojok memiliki makna sama dengan makna kata sudut. Hubungan makna antara kata pojok dan sudut adalah hubungan sinonim. Contoh lainnya adalah suka = senang, kawan =teman, gelap = pekat.
Pada halaman 72
Homonim, Homofon, Homograf
1.      Homonim adalah kata-kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Contoh:
a.       Kondisinya sudah sangat genting sehingga ayah dan ibu khawatir. (genting = gawat).
b.      Paman sedang memperbaiki genting yang pecah. (genting = atap).
2.      Homofon adalah kata yang cara pelafalannya sama, tetapi penulisan dan maknanya berbeda. Contoh :
a.       Dinda akan pergi kerumah nenek bersama bang ahmad. (bang = kakak).
b.      Harun menyimpan uangnya di bank. (bank = lembaga keuangan).
3.      Homograf adalah kata yang tulisannya sama, tetapi pelafalan dan maknanya berbeda contoh:
a.       Tia makan apel yang dibelikan bibinya. (apel = makan buah apel).
b.      Pejabat di kantor kelurahan sedang apel pagi di halaman. (apel = upacara bendera).
Pada halaman 108
Makna Konotasi dan Denotasi
1.      Makna konotasi adalah makna tambahan terhadap makna dasarnya berupa nilai rasa tertentu, misalnya perasaan hormat, marah atau merendahkan. Makna konotasi tidak sama dengan makna kiasan. Makna konotasi ada yang positif dan ada yang negative. Contohnya:
a.       Puluhan warga meninggal akbat musibah bencana banjir. (meninggal = konotasi netral).
b.      Akibat firus flu burung, banyak unggas yang mati. (mati = untuk binatang).
c.       Para pahlawan yang gugur di medan perang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. (gugur = konotasi hormat untuk pahlawan).
2.      Makna denotasi adalah makna kata lugas dan menunjuk langsung pada acuan tanpa disertai nilai rasa atau emosi (tidak ada penambahan makna didalamnya). Contonya:
a.       Kawanan kera itu akhirnya mati kelaparan ditengah hutan gundul.
b.      Ia memang anak yang cerdik dalam menyelesaikan masalah.
Pada halaman 168
Reduplikasi Nomina
            Kondisi sekolah-sekolah yang telah hancur lebur lantas mengingatkannya terhadap masalalu SD Muhammadiyah yang juga hamper rubuh meski bukan karena bencanan alam.
Kata yang bercetak tebal pada kalimat di atas merupakan jenis kata ulang nomina. Kata ulang nomina adalah kata ulang yang bentuk dasarnya adalah kata benda (nomina). Kata sekolah-sekolah  pada kalimat di atas, memiliki bentuk dasar sekolah, yang merupakan jenis kata benda.
Pada halaman 195
Hipernim dan Hiponim
Hipernim
Hiponim
Bunga
Mawar, melati, kenanga, plamboyan
Buah
Pisang, mangga, jambu, apel, nanas
Sayur
Bayam, wortel, angkung, kol, buncis
Alat transportasi
Speda, bus, kapal, pesawat terbang
1.      Pada  data diatas dapat disimpulakn Hipernim adalah sebuah kata umum yang memiliki kata-kata khusus. Kata-kata khusus ini merupakan sebuah rincian anggota dari kata umum (hipernim) tersebut. Kata umum dan kata-kata khusus ini harus saling berhubungan dalam hal maknanya.
2.      Sedangkan hiponim pada data di atas adalah kata-kata khusus dari sebuah hipernim. Hiponim masi memiliki hubungan makna dengan hipernimnya. Dengan kata lain, hiponim adalah rician spesifik (anggota) dari hipernim, yang masi memiliki hubungan makna.
Pada halaman 198
Preposisi Dari dan Daripada
1.      Penggunaan pupuk kompos lebih baik dari pupuk kimia.
2.      Bakat melukis andini lebih menonjul dari kakaknya.
3.      Naik speda lebih sehat dari naik speda motor.
Berdasarkan contoh tersebut, kata depan dari berfungsi untuk menandai makna ‘perbandingan’. Kata depan yang menyatakan makna ‘perbandingan’ seperti contoh tersebut dapat dirubah dengan kata depan daripada.
a.       Penggunaan pupuk kompos lebih baik daripada pupuk kimia.
b.      Bakat melukis andini lebih menonjul daripada kakaknya.
c.       Naik speda lebih sehat daripada naik speda motor.
Buku paket kelas VIII SMP
Identitas buku pada kelas VIII SMP yang memakai kurikulum 2013:
Buku               : Bahasa Indonesia
Penulis             : Elia Suganda dkk
Dicetak oleh    : PT Remaja Rasdakarya, Bandung
Tahun terbit     : 2005, 2007
Halaman isi     : 205
            Dalam buku ini berisi beberapa semantic yang telah dipelajari siswa SMP seperti:
Pada halaman 94
Menemukan Makna Kata Ulang
Selamatkan kami dari tangan-tangan jahil. Biarkan kami menikmati hidup berabad abad. Kami hewan-hewan langkah memerlukan perlindungan !
Pada kata-kata : Tangan-tangan, berabad-abad, dan hewan-hewan. Kata tersebut mengalami pengulangan baik seluruhnya atau sebagian, kata dasar atau berimbuhan. Kata semacam ini disebut kata ulang.
Pada halaman 152
Perluasan Makna dan Penyempitan Makna
Kata
Makna Dahulu
Makna Sekarang
Keterangan
Sastra
Tulisan
Karya seni bahasa
menyempit
Putri
Sebutan untuk anak perempuan raja
Anak perempuan
meluas
Saudara
Ada hubungan pertalian darah
Menyapa orang yang tidak harus berhubungan darah
meluas
Madrasah
Sekolah
Sekolah khusus agama islam
menyempit
            Pada data diatas perluasan makna dapat diartikan yakni kata-kata yang dahulu mempunyai cakupan makna yang lebih sempit, searang mempunyai makna yang lebih luas. Sedangkan penyempitan makna adalah kata-kata yang dahulu mempunyai cakupan makna luas sekarang mempunyai makna menyempit atau lebih spesifik.
Buku paket kelas IX SMP
Identitas buku pada kelas VIII SMP yang memakai kurikulum 2013:
Buku               : Bahasa Indonesia
Penulis             : Johan Wahyudi dkk
Dicetak oleh    : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Tahun terbit     : 2012
Halaman isi     : 276
Dalam buku ini berisi beberapa semantic yang telah dipelajari siswa SMP seperti:
Pada halaman 6
Kalimat Majemuk Bertingkat pengandaian, perbandingan, dan sebab akibat
            Kata pengandaian, perbandingan, dan sebab akibat digunakan untuk membuat kalimat majemuk bertingkat. Kata pengandaian biasanya ditandai pemakaian kata penghubung andai, andaikan, jika, dan,  jikalau. Penggunaan kata penghubung ini menyatakan pekerjaan tidak pernah terjadi. Contoh andai saja saya menjadi guru, mungkin saya akan mengajar kalian.
            Berbeda dengan kata penghubung pengandaian, kalimat majemuk bertingkat menyatakan perbandingan ditandai pemakaian kata penghubung seperti, laksana, ibarat, bagai, bagaikan, sebagaimana, semisal, dan bak. Contoh : cita-citamu boleh tinggi, tetapi kamu harus siap dengan tantangan ibarat sebuah pohon, semangkin tinggi semangkin kencang angin menerpa.
            Demikian halnya kalimat majemuk menyatakan sebab akibat ditandai pemakaian kata pengubung sebab, karena, sebabitu, karena itu, oleh karena itu, sehingga, maka, akibadnya, dan akhirnya. Contoh : karena orang tuanya pendidik, ia berkeinginan menjadi guru.
Pada halaman 16
Pergeseran Makna Meluas, Menyempit, Ameliorasi, Peyorasi, Sinestesia, dan Analogi
            Makna kata dapat mengalami pergeseran atau perubahan. Pergeseran makna disebabkan perkembangan zaman atau pergeseran nilai rasa pada pemakainya. Macam-macam pergeseran makna, antara lain:
a.       makna menyempit atau spesialisasi, yaitu makna kata sekarang dirasakan lebih sempit atau khusus dari pada cakupan makna lama atau dahulu.contoh: pendeta dulu digunakan untuk menyebut orang pandai atau penasihat raja tetapi, sekarang kata pendeta hanya digunakan untuk menyebut pemimpin agama Nasrani.
b.      Makna meluas atau generalisasi, yaitu makna suatu kata sekarang lebih luas daripada cakupan makna sebelumnya. Contohnya : berlayar dulu hanya digunakan untuk menyebut perahu atau kapal yang digerakkan dengan bantuan layar. Sekarang, makna berlayar digunakan untuk alat transportasi air.
c.       Ameliorative yaitu makna kata yang dianggap bernilai rasa lebih baik atau lebih tinggi nilainya daripada sebelumnya. Contoh : office boy digunakan untuk menyebut penjaga kantor.
d.      Peyoratif yaitu pergeseran makna kata yang diaggap lebih rendah atau lebih kasar nilainya dari pada sebelumnya. Contoh: mampus dirasakan lebih kasar daripada meninggal.
e.       Makna asosiasi yaitu makna kata yang dibandingkan dengan sesuatu karena dianggap mempunyai persamaan sifat. Contoh: gadis itu menjadi kembang desa.
f.       Sinestesia yaitu pergeseran makna kata karena terjadi pertukaran tanggapan antara dua indra yang berbeda. Contoh kalau tersenyum, gadis itu manis sekali.
Pada halaman 55
Kata Asing dan Kata Sarapan
Kata asing adalah kata yang berasal dari bahasa asing atau di luar dari bahasa Indonesia. Karena kosakata bahasa asing, kata asing ditulis dengan cetak miring atau digaris bawahi. Namun, jika kata asing itu sering digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari, kata asing itu disebut kata serapan. Contoh: warnet = warung internet.
Pada halaman 66
Kalimat Inversi atau Kalimat Susun Balik
Dilihat jenis kata kerja pada predikat, dikenal ada kalimat verbal dan kalimat nominal. Dilihat dari jumlah klausa, dikenal ada kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Berdasarkan susunan fungsi kalimat, ada dua macam yaitu kalimat susun biasa dan kalimat susun balik. Kalimat susun biasa meletakkan jabatan subjek sebelum atau di depan jabatan predikat. Contoh: adik (S)  sudah mengerjakan (P) pekerjaan rumahnya (O). Sebaliknya, kalimat yang meletakkan jabatan predikat sebelum atau di dapan jabatan subjek disebut kalimat susun balik. Contoh: telah dikerjakan (P) PR itu (S) tadi malam (K).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar