Nama
: Siti Aminah
Npm
: 116210787
Kelas
: 6 D
Buku paket kelas VII SMP
Identitas
buku pada kelas VII SMP yang memakai kurikulum 2013:
Buku
: Bahasa Indonesia
Penulis : Budi Waluyo
Dicetak
oleh : PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri
Tahun
terbit : 2013
Halaman
isi : 248
Dalam buku ini berisi beberapa
semantic yang telah dipelajari siswa SMP seperti:
Pada
halaman 7
Singkatan
dan Akronim
1.
Wisata Bahari Lamongan (WBL) merupakan tempat wisata yang
terletak dipesisir Pantai Jawa.
2.
Tempat wisata tersebut di buka
sekitar pukul 08:30 sampai pukul 17:30 WIB.
3.
Para pedagang yang tergabung dalam
Pagububan Pedagang Pasar Gagan (P3G)
melakukan menyedotan air yang tergenang ditengah pasar.
4.
Peristiwa terendamnya Pasar Gagan
tersebut merupakan kali kedua yang terjadi di pasar milik pemerintah desa (pemdes) Donohudan.
Kata yang tercetak tebal pada kalimat 1 – 3 merupakan contoh
singkatan, dimana singkatan adalah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf
atau lebih. Kata yang tercetak tebal pada kalimat 4 adalah contoh akronim, yang
disebut akronim adalah singkata dari dua kata atau lebih yang diperlakukan
sebagai kata (dibaca sebagai kata).
Pada
halaman 45
Sinonim
dan Antonim
Setiap kata memiliki makna. Dalam penggunaannya, ada
beberapa kata yang memiliki makna sama yang disebut sinonim. Namun, ada juga beberapa kata yang memiliki makna saling
berlawanan, yang disebut antonim.
Selain sinonim dan antonim, ada juga istilah polisemi. Polisemi adalah sebuah kata yang memiliki beberapa makna.
Antarmakna kata tersebut masih memiliki inti makna yang sama.
Perhatikan beberapa kata pada kalimat-kalimat di bawah ini !
1.
Lantai kamar ini terasa halus karena sudah dikeramik. Saat
belum dikeramik, lantai terasa kasar.
Kata
halus berlawanan makna dengan kata kasar. Jadi, hubungan makna antara kata halus dan kasar adalah hubungan antonim.
Contoh lainnya adalah bersih ><
kotor, tinggi >< rendah/pendek, sejuk >< panas.
2.
Di pojok ruang itu terdapat sebuah lemari ukir dari kayu jati.
Di
sudut ruang itu terdapat sebuah
lemari ukir dari kayu jati.
Kata
pojok memiliki makna sama dengan
makna kata sudut. Hubungan makna
antara kata pojok dan sudut adalah hubungan sinonim. Contoh
lainnya adalah suka = senang, kawan
=teman, gelap = pekat.
Pada
halaman 72
Homonim,
Homofon, Homograf
1.
Homonim adalah kata-kata yang bentuk
dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Contoh:
a. Kondisinya sudah sangat genting sehingga ayah dan ibu khawatir.
(genting = gawat).
b. Paman sedang memperbaiki genting yang pecah. (genting = atap).
2.
Homofon adalah kata yang cara
pelafalannya sama, tetapi penulisan dan maknanya berbeda. Contoh :
a. Dinda akan pergi kerumah nenek
bersama bang ahmad. (bang = kakak).
b. Harun menyimpan uangnya di bank. (bank = lembaga keuangan).
3.
Homograf adalah kata yang tulisannya
sama, tetapi pelafalan dan maknanya berbeda contoh:
a. Tia makan apel yang dibelikan bibinya. (apel = makan buah apel).
b. Pejabat di kantor kelurahan sedang apel pagi di halaman. (apel = upacara
bendera).
Pada
halaman 108
Makna
Konotasi dan Denotasi
1.
Makna konotasi adalah makna tambahan
terhadap makna dasarnya berupa nilai rasa tertentu, misalnya perasaan hormat,
marah atau merendahkan. Makna konotasi tidak sama dengan makna kiasan. Makna
konotasi ada yang positif dan ada yang negative. Contohnya:
a. Puluhan warga meninggal akbat
musibah bencana banjir. (meninggal = konotasi netral).
b. Akibat firus flu burung, banyak
unggas yang mati. (mati = untuk binatang).
c. Para pahlawan yang gugur di medan
perang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. (gugur = konotasi hormat untuk
pahlawan).
2.
Makna denotasi adalah makna kata
lugas dan menunjuk langsung pada acuan tanpa disertai nilai rasa atau emosi
(tidak ada penambahan makna didalamnya). Contonya:
a. Kawanan kera itu akhirnya mati kelaparan ditengah hutan gundul.
b. Ia memang anak yang cerdik dalam menyelesaikan masalah.
Pada
halaman 168
Reduplikasi
Nomina
Kondisi
sekolah-sekolah yang telah hancur
lebur lantas mengingatkannya terhadap masalalu SD Muhammadiyah yang juga hamper
rubuh meski bukan karena bencanan alam.
Kata yang bercetak tebal pada kalimat di atas merupakan
jenis kata ulang nomina. Kata ulang nomina adalah kata ulang yang bentuk
dasarnya adalah kata benda (nomina). Kata sekolah-sekolah pada kalimat di atas, memiliki bentuk
dasar sekolah, yang merupakan jenis
kata benda.
Pada
halaman 195
Hipernim
dan Hiponim
|
Hipernim
|
Hiponim
|
|
Bunga
|
Mawar,
melati, kenanga, plamboyan
|
|
Buah
|
Pisang,
mangga, jambu, apel, nanas
|
|
Sayur
|
Bayam,
wortel, angkung, kol, buncis
|
|
Alat
transportasi
|
Speda,
bus, kapal, pesawat terbang
|
1.
Pada
data diatas dapat disimpulakn Hipernim adalah sebuah kata umum yang
memiliki kata-kata khusus. Kata-kata khusus ini merupakan sebuah rincian
anggota dari kata umum (hipernim) tersebut. Kata umum dan kata-kata khusus ini
harus saling berhubungan dalam hal maknanya.
2.
Sedangkan hiponim pada data di atas
adalah kata-kata khusus dari sebuah hipernim. Hiponim masi memiliki hubungan
makna dengan hipernimnya. Dengan kata lain, hiponim adalah rician spesifik
(anggota) dari hipernim, yang masi memiliki hubungan makna.
Pada
halaman 198
Preposisi
Dari dan Daripada
1.
Penggunaan pupuk kompos lebih baik dari pupuk kimia.
2.
Bakat melukis andini lebih menonjul dari kakaknya.
3.
Naik speda lebih sehat dari naik speda motor.
Berdasarkan contoh tersebut, kata depan dari berfungsi untuk menandai makna ‘perbandingan’. Kata depan yang
menyatakan makna ‘perbandingan’ seperti contoh tersebut dapat dirubah dengan
kata depan daripada.
a. Penggunaan pupuk kompos lebih baik daripada pupuk kimia.
b. Bakat melukis andini lebih menonjul daripada kakaknya.
c. Naik speda lebih sehat daripada naik speda motor.
Buku paket kelas VIII SMP
Identitas
buku pada kelas VIII SMP yang memakai kurikulum 2013:
Buku
: Bahasa Indonesia
Penulis : Elia Suganda dkk
Dicetak
oleh : PT Remaja Rasdakarya, Bandung
Tahun
terbit : 2005, 2007
Halaman
isi : 205
Dalam buku ini berisi beberapa
semantic yang telah dipelajari siswa SMP seperti:
Pada
halaman 94
Menemukan
Makna Kata Ulang
Selamatkan kami dari tangan-tangan jahil. Biarkan kami
menikmati hidup berabad abad. Kami hewan-hewan langkah memerlukan perlindungan
!
Pada
kata-kata : Tangan-tangan, berabad-abad, dan hewan-hewan. Kata tersebut
mengalami pengulangan baik seluruhnya atau sebagian, kata dasar atau
berimbuhan. Kata semacam ini disebut kata ulang.
Pada
halaman 152
Perluasan
Makna dan Penyempitan Makna
|
Kata
|
Makna
Dahulu
|
Makna
Sekarang
|
Keterangan
|
|
Sastra
|
Tulisan
|
Karya seni bahasa
|
menyempit
|
|
Putri
|
Sebutan untuk anak perempuan raja
|
Anak perempuan
|
meluas
|
|
Saudara
|
Ada hubungan pertalian darah
|
Menyapa orang yang tidak harus
berhubungan darah
|
meluas
|
|
Madrasah
|
Sekolah
|
Sekolah khusus agama islam
|
menyempit
|
Pada data diatas perluasan makna dapat
diartikan yakni kata-kata yang dahulu mempunyai cakupan makna yang lebih
sempit, searang mempunyai makna yang lebih luas. Sedangkan penyempitan makna
adalah kata-kata yang dahulu mempunyai cakupan makna luas sekarang mempunyai
makna menyempit atau lebih spesifik.
Buku paket kelas IX SMP
Identitas
buku pada kelas VIII SMP yang memakai kurikulum 2013:
Buku
: Bahasa Indonesia
Penulis : Johan Wahyudi dkk
Dicetak
oleh : PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri
Tahun
terbit : 2012
Halaman
isi : 276
Dalam buku ini berisi beberapa semantic yang telah
dipelajari siswa SMP seperti:
Pada
halaman 6
Kalimat
Majemuk Bertingkat pengandaian,
perbandingan, dan sebab akibat
Kata pengandaian, perbandingan, dan
sebab akibat digunakan untuk membuat kalimat majemuk bertingkat. Kata
pengandaian biasanya ditandai pemakaian kata penghubung andai, andaikan, jika, dan, jikalau. Penggunaan kata penghubung ini
menyatakan pekerjaan tidak pernah
terjadi. Contoh andai saja saya
menjadi guru, mungkin saya akan mengajar kalian.
Berbeda dengan kata penghubung
pengandaian, kalimat majemuk bertingkat menyatakan perbandingan ditandai
pemakaian kata penghubung seperti, laksana,
ibarat, bagai, bagaikan, sebagaimana, semisal, dan bak. Contoh : cita-citamu boleh tinggi, tetapi kamu harus siap
dengan tantangan ibarat sebuah pohon,
semangkin tinggi semangkin kencang angin menerpa.
Demikian halnya kalimat majemuk
menyatakan sebab akibat ditandai pemakaian kata pengubung sebab, karena, sebabitu, karena itu, oleh karena itu, sehingga, maka,
akibadnya, dan akhirnya. Contoh :
karena orang tuanya pendidik, ia
berkeinginan menjadi guru.
Pada
halaman 16
Pergeseran
Makna Meluas, Menyempit, Ameliorasi, Peyorasi, Sinestesia, dan Analogi
Makna kata dapat mengalami
pergeseran atau perubahan. Pergeseran makna disebabkan perkembangan zaman atau
pergeseran nilai rasa pada pemakainya. Macam-macam pergeseran makna, antara
lain:
a.
makna menyempit atau spesialisasi, yaitu makna kata sekarang
dirasakan lebih sempit atau khusus dari pada cakupan makna lama atau
dahulu.contoh: pendeta dulu digunakan
untuk menyebut orang pandai atau penasihat raja tetapi, sekarang kata pendeta hanya digunakan untuk menyebut
pemimpin agama Nasrani.
b.
Makna meluas atau generalisasi, yaitu makna suatu kata
sekarang lebih luas daripada cakupan makna sebelumnya. Contohnya : berlayar dulu hanya digunakan untuk
menyebut perahu atau kapal yang digerakkan dengan bantuan layar. Sekarang,
makna berlayar digunakan untuk alat
transportasi air.
c.
Ameliorative yaitu makna kata yang
dianggap bernilai rasa lebih baik atau lebih tinggi nilainya daripada
sebelumnya. Contoh : office boy digunakan
untuk menyebut penjaga kantor.
d.
Peyoratif yaitu pergeseran makna
kata yang diaggap lebih rendah atau lebih kasar nilainya dari pada sebelumnya.
Contoh: mampus dirasakan lebih kasar
daripada meninggal.
e.
Makna asosiasi yaitu makna kata yang
dibandingkan dengan sesuatu karena dianggap mempunyai persamaan sifat. Contoh:
gadis itu menjadi kembang desa.
f.
Sinestesia yaitu pergeseran makna
kata karena terjadi pertukaran tanggapan antara dua indra yang berbeda. Contoh
kalau tersenyum, gadis itu manis sekali.
Pada
halaman 55
Kata
Asing dan Kata Sarapan
Kata asing adalah kata yang berasal dari bahasa asing atau
di luar dari bahasa Indonesia. Karena kosakata bahasa asing, kata asing ditulis
dengan cetak miring atau digaris bawahi. Namun, jika kata asing itu sering
digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari, kata asing itu disebut kata serapan.
Contoh: warnet = warung internet.
Pada
halaman 66
Kalimat
Inversi atau Kalimat Susun Balik
Dilihat jenis kata kerja pada predikat, dikenal ada kalimat
verbal dan kalimat nominal. Dilihat dari jumlah klausa, dikenal ada kalimat
tunggal dan kalimat majemuk. Berdasarkan susunan fungsi kalimat, ada dua macam
yaitu kalimat susun biasa dan kalimat susun balik. Kalimat susun biasa
meletakkan jabatan subjek sebelum atau di depan jabatan predikat. Contoh: adik
(S) sudah mengerjakan (P) pekerjaan
rumahnya (O). Sebaliknya, kalimat yang meletakkan jabatan predikat sebelum atau
di dapan jabatan subjek disebut kalimat susun balik. Contoh: telah dikerjakan
(P) PR itu (S) tadi malam (K).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar